Seiring dengan perkembangan zaman dan globalisasi, banyak sekali hal yang berubah. Perubahan-perubahan itu tentu saja ada yang memberikan dampak positif maupun negatif. Dampak terjadi pada semua aspek kehidupan, mulai dari aspek teknologi, sosial, politik, ekonomi, budaya, agama, hingga aspek pendidikan. Saat ini banyak sekali kejadian dan kasus dalam lingkup pendidikan yang melampaui batas wajar dan cenderung berkonotasi negatif. 


Banyak faktor-faktor yang menyebabkan kemerosotan dalam pendidikan, salah satunya adalah masalah moral.. Mulai dari anak usia Sekolah Dasar hingga remaja usia Sekolah Menengah Atas mengabaikan etika dan moral dalam pendidikan. Tak dapat dipungkiri, moral pendidikan anak semakin mengalami “kebobrokan”

Banyak kasus yang telah diberitakan terkait dengan dunia pendidikan yang melibatkan guru dan murid. Salah satu kasus yang baru-baru ini sedang menjadi trending topic dalam bingkai pendidikan  adalah kasus tentang pemukulan yang dilakukan seorang murid kepada guru. 

Hal ini tentunya sangat jelas tidak patut untuk dilakukan. Guru berkewajiban untuk membimbing dan mengarahkan anak didiknya supaya menjadi manusia yang terdidik dan selalu bersikap baik. Sebagai seorang murid, sudah pasti harus menghargai dan bersikap sopan kepada guru. Begitulah norma dan moral yang semestinya berjalan dalam pendidikan. Untuk mengatasi masalah moral dan mental pendidikan perlu usaha sebagai berikut

Cara Mengatasi Kemerosotan Moral Dan Mental Pendidikan 

1. Memaksimalkan Peran Orang Tua


Sebagai orang tua sudah sewajarnya untuk terus membimbing dan mengarahkan anak-anaknya agar menjadi orang yang mempunyai karakter yang bagus. Walaupun faktor lingkungan juka berpengaruh terhadap anak, namun pada dasarnya pengaruh orang tua sangat besar terhadap tumbuh kembangnya anak. 

Hal ini karena sejak kecil lingkungan yang di kenal anak pertama kali adalah lingkungan keluarga. Oleh sebab itu orang tua wajib memerhatikan dan mendampingi anak-anak dalam pertumbuhannya dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan pada usia dini. Sehingga ketika anak-anak memasuki lingkungan yang baru, yaitu lingkungan pendidikan formal, mereka akan beradaptasi dengan memperhatikan hal-hal baik yang telah diajarkan oleh orang tuanya. 

2. Membatasi Penggunaan Media Sosial bagi Anak-Anak


Perkembangan zaman yang begitu cepat, membuat orang terbuai dalam teknologi. Orang tua zaman sekarang sudah sangat modern. Saking modernnya banyak yang salah menempatkan seuatu, misalnya gadget. Banyak orang tua zaman sekarang membekali anak mereka dengan gadget. Dengan gadget anak-anak mudah masuk ke dunia media sosial. Padahal kita tahu bahwa usia anak-anak masih mudah terbawa arus, sehingga media sosial inipun berpengaruh banyak terhadap anak-anak dalam segi mental dan moral. 

Media sosial memang memiliki dampak posistif, akan tetapi perlu juga memperhatikan dampak negatifnya. Sejatinya anak-anak belum terlalu membutuhkan media sosial. Media sosial ini juga mampu menyita waktu anak-anak. Anak-anak lebih suka berselancar menggunakan gadget daripada bermain di luar. 

Padahal anak-anak perlu melihat keluar, melihat dunia yang sebenarnya, agar mental mereka dapat berkembang dengan baik, sehingga kelak anak-anak dapat beradaptasi dan mengambil keputusan dengan bijak. Pembatasan akan penggunaan media sosial perlu memang dilakukan. 

3. Pendidikan Karakter


Banyak sekali orang mendengungkan tentang pendidikan karakter. Apa sih pentingnya? Pada dasarnya pendidikan karakter ini memenag sangat diperlukan. Mengingat kondisi pendidikan, moral, dan mental anak, pendidikan karakter ini perlu di prioritaskan. 

Malahan, jika perlu, pendidikan karakter diberikan mulai anak usia dini. Sehingga karakter anak dapat terbentuk dengan baik. Ketika pendidikan karakter berjalan baik sebagaimana mestinya maka akan tercapai tujuan dalam pembentukan karakter yang baik.

Dengan uraian di atas, banyak hal yang perlu dilakukan untuk membenahi moral dan mental pendidikan pada anak-anak. Banyak pihak yang perlu menjalankan peran dengan baik dan semaksimal mungkin, yaitu orang tua, lembaga pendidik, dan pendidik itu sendiri, sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan karakter yang baik. Tanpa adanya peran aktif dari berbagai pihak, hal tersebut tidak akan terwujud.